MEMBUAT PROPOSAL GEDUNG PERPUSTAKAAN

Standar

PROFIL SEKOLAH

Nama sekolah                                                         : SMP RAWA PITU GEDUNGJAYA

Alamat :                   Jalan /Kampung                      : Jalan Utama Nomor 002 Kampung Gedungjaya

Kecamatan/Kabupaten            : Rawa Pitu/Tulang Bawang

No. telp                                    : 0812 7466 0090

  1. NSS/NIS/NPSN                                       : 20.2.12.05.24.091 / 10804049
  2. Jenjang Akreditasi                                   : B
  3. Tahun didirikan                                        : 2000
  4. Tahun beroperasi                                    : 2001
  5. Tahun Penegerian                                  : –
  6. Kepemilikan tanah                                   :
  • Status : Akta Hibah
  • Luas tanah : 30.000 m2
  1. Status bangunan milik                             : Masyarakat
  2. Luas seluruh bangunan                           : 167 m2
  3. Nomor rekening sekolah                         : Bank Lampung      : 394.00.03.00018.8                Unit 2

Data Siswa dalam enam tahun terakhir :

Th. Ajaran Jumlah pendaftar Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah
Jmlh

siswa

Jmlh rombel Jmlh

siswa

Jmlh rombel Jmlh

siswa

Jmlh rombel Jmlh

siswa

Jmlh rombel
2004/2005 50 50 1 30 1 32 1 112 3
2005/2006 31 31 1 49 1 29 1 109 3
2006/2007 35 35 1 31 1 49 1 115 3
2007/2008 60 60 1 35 1 31 1 126 3
2008/2009 65 61 2 60 1 34 1 155 4
2009/2010 66 65 2 50 2 59 1 174 5
2010/2011 66 65 2 49 2 41 1 155 5
2011/2012 68 68 2 70 2 44 1 182 5
2012/2013 78 78 2 58 2 60 2 196 6
2013/2014 40 40 1 68 2 61 2 171 5
  1. a) Data Ruang Kelas
Ruang Kelas Jumlah Ruang Kkelas Asli Jumlah ruang lainnya yang digunakan untuk ruang kelas

(c)

Jumlah ruang yang digunakan untuk ruang kelas

(f) = d + c

Ukuran

7x 8 m

(a)

Ukuran

> 58 m2

(b)

Ukuran

< 58 m2

(c)

Jumlah

(d)

=(a+b+c)

2 7 9 9
  1. b) Data Ruang lain
Jenis Ruangan Jumlah ukuran (m2) Jenis Ruangan Jumlah ukuran (m2)
1. Perpustakaan 5. Lab. Bahasa
2. Laboratorium IPA 6. Lab. Computer
3. Ruang Keterampilan 7. Asrama Guru
4. Gedung Serba guna 8. Gudang
  1. Data Guru
Jumlah Guru/Staf SMP Negeri Jumlah Guru/Staf SMP Swasta Keterangan
Guru Tetap yayasan 5 Pendidikan S1   2 Orang
Guru Kontrak
Guru Honor Sekolah 14 SLTA 17 Orang
Staf Tata Usaha
MENGETAHUI:

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TULANG BAWANG,

 

 

 

Drs. FIRSADA, M. Si.

NIP 19670515 198901 1 001

Rawa Pitu, 16 Januari 2014

Kepala Sekolah,

SUTRISNO, S.Pd.

 

PEMERINTAH KABUPATEN TULANG BAWANG

DINAS PENDIDIKAN

SMP RAWA PITU GEDUNGJAYA

KECAMATAN RAWA PITU

Alamat : Jalan Utama Kampung Gedungjaya, Rawa Pitu, Tulang Bawang KP 34595

www.smprawapitugedungjaya.blogspot.com dan www.smprawapitugedungjaya.sch.id

 

 

Nomor             : 115/SMP-RP/GJ-RP/III/2014

Lampiran         : 1 ( bendel )

Perihal             : Permohonan Bantuan Perpustakaan dan Perlengkapannya

 

Yth.     Direktorat Pembinaan SMP Kemendiknas

di

Jakarta

Dengan hormat,

Sesuai dengan perihal di atas, Kami seluruh warga sekolah dengan Kerendahan hati mengajukan permohonan agar SMP Rawa Pitu Gedung Jaya dapat memperoleh Bantuan Gedung Perpustakaan dan Perlengkapannya .

Sebagai bahan pertimbangan bersama ini kami lampirkan :

  1. Profil Sekolah.
  2. Foto copy surat tanah.
  3. Foto copy Surat Yayasan.
  4. Site plane sekolah
  5. Foto Kondisi dan calon lokasi bangunan.

Demikian Permohonan Kami, atas perhatian dan kebijakkannya kami ucapkan terima kasih.

Gedungjaya, 02 Maret 2014

MENGETAHUI:

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TULANG BAWANG,

 

 

 

 

Drs. FIRSADA, M. Si.

NIP 19670515 198901 1 001

Kepala Sekolah,

 

 

 

SUTRISNO, S.Pd.

BIODATAKU

Standar

 

Lampiran 1

BIODATA KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI

 

Foto 4×6 berwarna

6 bulan terakhir

 

 

 

 

 

  1. I.                    KETEREANGAN PERORANGAN
  2. Nama Lengkap
 

SUTRISNO, S.Pd.

  1. NIP

19740621 199703 1 003

  1. Jabatan fungsional

GURU

  1. Pangkat dan Golongan

PENATA IIIC

  1. Tempat Lahir

SIDODADI

  1. Tanggal Lahir

21 JUNI 1974

  1. Jenis Kelamin

LAKI-LAKI

  1. Agama

ISLAM

  1. Sekolah

SDN 04 SIDOMULYO

  1. Alamat Sekolah

DWIMULYO, PENAWARTAMA, TULANG BAWANG

  1. Telp./Fax

  1. Status Perkawinan

KAWIN

  1. Alamat
  2. Jalan
 

F

 

  1. Kampung

DWIMULYO

  1. Kecamatan

PENAWARTAMA

  1. Kabupaten

TULANG BAWANG

  1. Provinsi

LAMPUNG

  1. Telp
  2. Rumah
 

 

  1. HP

0813 69530002

  1. e-mail

http://www.trisnomarsa@yahoo.co.id

 

Nama istri                    : INSAF SETIA, S.Pd.

Pekerjaan istri           : CPNS

Jabatan                        : GURU

 

ANAK

NO

NAMA

USIA

PENDIDIKAN

1.

ILHAM ANUGERAH

12 tahun

SD KELAS 6

2.

AURANISA ALFATIH

07 tahun

SD KELAS 2

3.

AFRANISA ALFALIH

04 tahun

BELUM SEKOLAH

4.

TAQWA ALFATTAH

02 tahun

BELUM SEKOLAH

 

  1. II.                  RIWAYAT PENDIDIKAN

NO

TINGKAT

PENDIDIKAN

JURUSAN

TAHUN

INSTITUSI PENDIDIKAN

1.

SD

SD

1986

SD SIDOHARJO

2.

SLTP

SMP

1989

SMP MMT SIDOMULYO

3.

SLTA

SMA

IPS

1994

SMA GEDUNG AJI BARU

4.

PERG.TINGGI

5.

D1

6.

D2

D2 PGSD

GURU KELAS

1996

UNILA

7.

D3

8.

S1

S1

BAHASA INDONESIA

2003

STKIPM KOTABUMI

9.

S2

10.

S3

 

  1. III.                PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Pendidikan dan pelatihan di dalam dan di luar negeri

NO

NAMA DIKLAT

LAMA

TAHUN

INSTITUSI PENYELENGGARA

TEMPAT

1.

KMD Pramuka

90    jam

1997

Kwarcab Tuba

Sukamaju

2.

KML Pramuka

100  jam

1999

Kwarcab Tuba

Pancakarsa

3.

Pelatihan Peny. Kurikulum 1994

37    jam

1999

Depdikbud lampung

Menggala

4.

Pelatihan KBK

34    jam

2003

Kacabdin Penawrtma

Penawartama

5.

Diklat Matematika Berkelanjutan

168  jam

2003

BPG Lampung

BPG B. Lamp

6.

Diklat Cakep

135  jam

2003

Pemda Tuba

Menggala

7.

Diklat Matematika Realistik

40    jam

2007

Dinas Pend. Tuba

Bogatama

8.

Pelatihan Fasilitator PFB

2      hari

2007

PMI

Bogatama

9.

Diklat Sertifikasi Guru

10    hari

2008

Depdiknas

B. Lampung

10.

Workshop KTSP

27    jam

2008

 

SMPN 1 Ptm

11.

Pelatihan PJKOS Melalui UEP

3      hari

2008

Dinsos Lampung

H. Enggal

12.

Pelatihan Jurnalistik

1      hari

2008

Radar Lampung

Menggala

13.

Workshop Pemb. Al Qur an Tkt SD

18    jam

2009

KKP PAI Tuba

Banjar Agung

14.

Diklat Pen. Kreatifts dan Imajinasi

8     jam

2009

LDEC Lampung

SDN 1 Bogatama

15.

Pelatihan Kwirausahaan Perikanan

4     hari

2010

Din. Kel. Dan Perkn.

BBIS Purbolinggo

16.

Diklat Cawas

8      hari

2011

LPMP Lampung

BDPP Tuba

17.

Kursus Komputer

60    Jam

2011

Azizah Digit. Comp.

Penawartama

 

 

  1. IV.                SERTIFIKASI PROFESI

NO

JENIS SERTIFIKAT

TAHUN

INSTITUSI PEMBERI

1.

SERTIFIKAT PENDIDIK

2008

LPMP LAMPUNG

 

  1. V.                  RIWAYAT PEKERJAAN

NO

JABATAN

TAHUN

TEMPAT

KETERANGAN

1.

GURU

1997

SDN 01 SIDOMULYO

 

2.

GURU +KEPALA SEKOLAH

2003

SDN 04 SIDOMULYO

s.d. sekarang

 

  1. VI.                PENGALAMAN
    1. Kunjungan ke luar negeri

NO

NEGERA YANG DITUJU

TAHUN

TUJUAN KUNJUNGAN

LAMA KUNJUNGAN

DIBIAYAI OLEH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pertemuan Ilmiah (Simposium/ seminar/ konferensi)

NO

NAMA KEGIATAN YANG DIIKUTI

KEDUDUKAN /PERANAN ( PESERTA, PENYAJI, NARA SUMBER)

BULAN /TAHUN

KETERANGAN

1.

Seminar Prof. Guru

Peserta

Jan. 2009

Depag Tuba

 

 

 

 

 

 

  1. KETERANGAN ORGANISASI
    1. Semasa mengikuti pendidikan (sebelum bekarja)

NO

NAMA ORGANISASI

KEDUDUKAN DALAM ORGANISASI

DARI TAHUN S.D. TAHUN

TEMPAT

PIMPINAN ORGANISASI

1.

OSIS

KETUA

1987- – 1988

SMP MMT SIDOMULYO

SEBASTIANUS

2.

OSIS

KETUA

1991- -1992

SMA GEDUNG AJI

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Semasa menjadi guru/kepala sekolah (kecuali organisasi politik)

NO

NAMA ORGANISASI

KEDUDUKAN DALAM ORGANISASI

DARI TAHUN S.D. TAHUN

TEMPAT

PIMPINAN ORGANISASI

1.

KKG

SEKRETARIS

2003 – – Sekrg

KEC. PENAWARTAMA

Sukarto, S.Pd.

2.

KKKS  KEC.

SEKRETARIS

 

KEC. PENAWARTAMA

Srihartono, S.Pd.

3.

PGRI KEC.

SEKRTRS. II

2007 – – sekrg

KEC. PENAWARTAMA

I Nyoman Diaste

4.

KWRRAN

SEKRETARIS

2010 – – sekrg

KEC. PENAWARTAMA

Dwi Murwanto, S.Pd.

5.

PEMUDA KAMP.

KETUA

2002 – – 2005

KAMP. DWIMULYO

Sutrisno, S.Pd.

6.

PJAK

PJAK

1999 – – 2000

KAMP. SIDOMULYO

Sabarudin

7.

BPK

SEKRETARIS

2010 – sekrg

KAMP. DWIMULYO

I Made Dana Putra

8.

SETIA SENTRE

SEKRETARIS

2006 – – sekrg

KAMP. DWIMULYO

Iklas Setia, S.Pd.

9

KWARCAB

ANDALAN

2007 – – sekrg

KAB. TUBA

Drs. DarwisF.,M.Si.

10.

GUDEP DWIMLYO

MABIKAM

2010 – – sekrg

KAMP. DWIMULYO

  1. Setia, S.Pd.

 

VIII  KARYA AKADEMIK

  1. PENELITIAN

NO

JUDUL PENELITIAN

TAHUN

POSISI PENULIS

PEMBERI DANA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. KARYA TULIS

NO

JUDUL PENELITIAN

TAHUN

DIMUAT PADA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IX  PENGHARGAAN / TANDA JASA YANG PERNAH DIPEROLEH

NO

NAMA PENGHARGAAN/TANDA JASA

TAHUN

LEMBAGA PEMBERI PENGHARGAAN/TANDA JASA

1.

Lomba Karya Tulis Peningk. Imtaq

2003

Depdiknas

2.

Panitia Kemah Baksos HUTPRAM

2006

Kwarran Penawartama

3.

Panitia Haiking Gugus

2003

Gugus II Kartini Penawartama

4.

PPS Kampung  Sidomulyo

2007

KPU Tulang Bawang

5.

Pembelajaran Terpadu Tematik

2009

Penerbit Erlangga

6.

Panitia Penyelenggara MTQ

2008

Camat Penawartama

7.

Kemah Bakti HUTPRAM

2009

Kwarran Penawartama

8.

Kegiatan “Ekspedisi”

2005

SDN 04 Sidomulyo

9.

Juara Harapan I Lomba Lukis

2008

Bupati Tulang Bawang

10.

Ka. Panitia KMD Kwarcab Tuba

2009

Kwarcab Tulang Bawang

11.

Juara I Lomba Lukis Pariwisata

2008

Bupati Tulang Bawang

12.

Panitia Penyusun Ujian Praktik Kls.VI

2009

KKKS Penawartama

13.

Lomba PAI

2010

Panitia lomba

14.

Panitia HUT Pramuka

2004

Kwarran Penawartama

 

Demikian keterangan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

 

 

Tulang Bawang, 16 Mei 2011

 

 

 

SUTRISNO, S.Pd.

NIP 19740621 199703 1 003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KUISIONER KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI

(Dilihat tiga tahun terakhir)

  1. I.                    PRESTASI BELAJAR SISWA YANG DILIHAT DARI HASIL UAN DAN UAS

NO

TAHUN

PERINGKAT KECAMATAN

PERINGKAT KABUPATEN

PERINGKAT PROVINSI

KETERANGAN

BUKTI FISIK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.                  PRESTASI SISWA DALAM BIDANG AKADEMIK YANG DILIHAT DARI PRESTASI SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA-LOMBA BIDANG STUDI SEPERTI : MATEMATIKA DAN LAINNYA

 

NO

NAMA LOMBA YANG DIIKUTI

NAMA SISWA YANG MENGIKUTI

TAHUN

PRESTASI YANG DIRAIH

BUKTI FISIK

1.

Mapel Bahasa Indonesia

Ilham Anugerah

2009

Juara II

 

2.

Lomba Adzan

Khoirul Anam

2010

Juara II

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. III.                PRESTASI SEKOLAH DALAM BIDANG OLAH RAGA

NO

CABANG OLAHRAGA YANG DIIKUTI

NAMA SISWA

NAMA LOMBA / PERTANDINGAN YANG DIIKUTI

TAHUN

PRESTASI YANG DIRAIH

BUKTI FISIK

1.

Catur Putra

Rizki Saputra

O2SN Gugus II

2011

Juara I

 

2.

Bulu Tangkis

Alek Subagiyo

O2SN Gugus II

2011

Juara I

 

3.

Lempar Roket

Rio Susanto

O2SN Gugus II

2011

Juara I

 

4.

Wulan dari

Lari Halang Rtg

O2SN Gugus II

2011

Juara I

 

 

  1. IV.                PRESTASI SEKOLAH DALAM BIDANG KESENIAN

NO

KESENIAN YANG DIIKUTI

NAMA LOMBA YANG DIIKUTI

TAHUN

PRESTASI YANG DIRAIH

BUKTI FISIK

1.

Lomba Menggambar

L. Menggabr Kec.

2011

Juara I Kelas 2

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. V.                  PRESTASI SEKOLAH DALAM BIDANG LAIN-LAIN

Tulislah prestasi sekolah dalam bidang ekstrakurikuler yang lain

  1. 1.       Tari “Sembah” Adat Lampung mampu di mohon tampil di Kampung Tetangga.
  2. 2.       Kewirausahaan”Pembibitan : Sawi, Karet, dan Jabon”
  3. 3.       Tari” Kuda kepang” sudah mulai tampil ditingkat kampung.

 

  1. VI.                PRESTASI GURU

NO

NAMA GURU

DALAM BIDANG

PRESTASI YANG DIRAIH

TAHUN

KETERANGAN

BUKTI FISIK

1

I MADE DP

SAINS

JUARA III

2009

MEMBUAT ALAT PERAGA

 

2.

IDA FITRIANA

GURU BERPRESTASI

JUARA III

2011

 

 

 

  1. VII.              PRESTASI SEKOLAH DALAM BIDANG SOSIAL/KEINDAHAN DAN KEBERSIHAN SEKOLAH

 

NO

BIDANG

PENGHARGAAN YANG DIPEROLEH

TAHUN

INSTANSI PEMBERI PENGHARGAAN

BUKTI FISIK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. VIII.            PRESTASI SEKOLAH DALAM BIDANG INOVASI PEMBELAJARAN

(Penerapan metode pembelajaran baru / implementasi pengembangan metode pembelajaran efektif)

 

NO

NAMA PROGRAM / KEGIATAN

INOVASI YANG DILAKUKAN

TAHUN

KETERANGAN

BUKTI FISIK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. IX.                PENERBITAN SEKOLAH

 

NO

NAMA PENERBIT

Jenis (Mading/Buletin)

TAHUN TERBIT

KETERANGAN

BUKTI FISIK

1

SEKOLAH

BULLETIN

2006 — SEKRANG

 

 

 

 

  1. X.                  AKREDITASI SEKOLAH BAIK DARI PEMERINTAH MAUPUN YANG DIUSAHAKAN SENDIRI SEPERTI ISO 9000, DLL

NO

INSTANSI PEMBERI AKREDITASI

NILAI YANG DIPEROLEH

TAHUN

KETERANGAN

BUKTI FISIK

1.

BAS

C

2006

 

 

 

  1. XI.                KERJASAMA YANG SUDAH DILAKUKAN DAN SEDANG BERLANGSUNG

NO

NAMA PROGRAM KERJASAMA

INSTANSI MITRA

TAHUN

LAMA KERJASAMA

HASIL YANG DICAPAI

BUKTI FISIK

1.

HAFALAN JUZ AMMA

PP. D.ISLAM

 

1 TAHUN

HAFAL JUZ AMMA

 

2.

 

 

 

1 TAHUN

HAFAL JUZ AMMA

 

3.

 

 

 

 

 

 

 

  1. XII.              BANTUAN YANG DIPEROLEH

NO

NAMA BANTUAN YANG DITERIMA

UPAYA MEMPEROLEH BANTUAN

BENTUK BANTUAN YANG DITERIMA

TAHUN

INSTANSI PEMBERI BANTUAN

BUKTI FISIK

1.

DEKON

PROPOSAL

GEDUNG

2008

DISDIK

 

2.

DAK

PROPOSAL

GEDUNG,MUBILER

2009

DISDIK

 

3.

SATAP

PROPOSAL

GEDUNG, MAINAN

2010

DISDIK

 

 

 

  1. XIII.            PRESTASI DALAM PENERAPAN MANAJEMEN SEKOLAH

NO

PENGHARGAAN YANG DIPEROLEH

TAHUN

INSTANSI PEMBERI PENGHARGAAN

BUKTI FISIK

 

 

 

 

 

  1. XIV.            KESEMPATAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN PROFESI

(Peningkatan Kualifikasi pendidikan, Diklat, Penataran, Seminar, dll)

NO

NAMA GURU YANG MENGIKUTI KEGIATAN

NAMA KEGIATAN

TAHUN

 

TEMPAT

INSTITUSI PENYELENGGARAAN

BUKTI FISIK

1.

I MADE DP

PT TEMATIK

2009

MAKARTITAMA

PEN. ERLANGGA

 

2.

PURNININGSIH

S1 PAI

2009

B. LAMPUNG

DEPAG

 

3.

IDA FITRIANA

S1 PGSD

2009

B.AGUNG

DISDIK

 

4.

KURNIATI

PT TEMATIK

2009

MAKARTITAMA

PEN. ERLANGGA

 

5.

INSAP SETIA

PT TEMATIK

2009

MAKARTITAMA

PEN. ERLANGGA

 

 

  1. XV.              KESEMPATAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN KARIR

(Kenaikan Pangkat, Jabatan, Promosi, dll)

NO

NAMA GURU

SEBELUM

SESUDAH

TAHUN

KETERANGAN

BUKTI FISIK

1.

I MADE DP

IIB

IIC

2011

Hanya ada 4

 

2.

IDA F.

IIC

IID

2010

Guru PNS

 

3.

ENI S.

IIB

IIC

2010

 

 

 

  1. XVI.            PENGALAMAN JABATAN

NO

JABATAN

TAHUN

TEMPAT

HASIL YANG DICAPAI

BUKTI FISIK

1.

PLH KASEK

1998

SDN 04 SIDOMULYO

(Terlampir)

 

2.

KASEK DEF.

2003

SDN 04 SIDOMULYO

(Terlampir)

 

 

  1. XVII.          PENEGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEKOLAH

(Laboratorium Komputer, Website, Internet)

NO

JENIS PROGRAM

TAHUN

HASIL YANG DICAPAI

BUKTI FISIK

1.

PEMBUATAN BLOG SEKOLAH

2010

MUDAH DIAKSES

 

2.

PEMANFAATAN LCD PROYEKTOR

2011

BELUM MEMUASKAN

 

 

  1. XVIII.        KONDISI GEOGRAFIS DAN TOPOGRAFIS SERTA SOSIAL SEKOLAH

Kondisi Geografis dan Topografis adalah keadaan yang menggambarkan letak sekolah (jarak sekolah dengan ibu kota kecamatan dan kabupaten, transporasi yang digunakan). Kondisi sosial adalah keadaan yang menggambarkan apakah sekolah berada pada lokasi daerah konflik, miskin dan atau terpencil. Tuliskan kondisi tersebut dibawah ini :

SD NEGERI 04 Sidomulyo terletak di daerah agak pedalaman berkisar 7 km dari jalan hitam meskipun kondisi jalan yang cukup parah. Jarak ke Kecamatan kurang lebih 17 km dan merupakan Kampung paling ujung Barat di Kecamatan Penawartama. Jarak ke Ibukota Kabupaten Tulang Bawang sekitar 65 km atau jika ditempuh dengan kendaraan bermotor memerlukan waktu sekitar dua jam. Masyarakat pendukung sekolah adalah mayoritas buruh lepas kebun kelapa sawit plasma dan PT BNIL, dan masyarakatnya dengan pola pikir yang relatif masih rendah akan kesadaran di dalam pendidikan. Dua tahun terakhir sudah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan dengan perkembangan anak didik lulusan SDN 04 Sidomulyo mulai yang banyak meneruskan kejenjang tidak hanya di SLTP tetapi sampai ke jenjang SLTA.

 

  1. XIX.            DUKUNGAN PEMDA DAN KOMITE SEKOLAH SERTA MASYARAKAT

 

Dukungan Pemda : Tuliskan anggaran untuk bidang pendidikan kabupaten dan kota pada 2 tahun terakhir yang dilihat dari APBD.

 

Dukungan Komite Sekolah : Tuliskan bentuk – bentuk dukungan yang diberikan komite sekolah.

Dukungan Masyarakat : Tulis apa saja dalam bentuk apa saja dukungan masyarakat, atau sebaliknya tuliskan apakah masyarakat justru kurang mendukung.

 

Tuliskan yang dimaksud di atas, di bawah ini :

 

Dukungan komite terilhat hampir setiap tahun berjalan meskipun masih relatif kecil untuk ukuran kebutuhan ideal sekolah, berikut adalah beberapa bentuk dukungan komite kepada sekolah :

Bangunan kantor dengan ukuran 5m x6m, dengan biaya semua oleh komite sekolah.

Meja murid dibuat oleh komite sejumlah 20 stel.

Sedangkan dari masyarakat sebagai wujud dukungan kepada sekolah adalah perbaikan jalan dan jembatan menuju kesekolah dengan bentuk gotong royong.

Satu hambatan yang masih sampai saat ini meskipun sudah cukup drastis berkurang adalah dukungan orang tua murid untuk mengikuti kegiatan ektra sekolah yangcukup padat, tetapi dengan perkembangan pendidikan di Kampung Dwimulyo yang sudah ada TK kemudian sudah banyak yang sekolah kelanjutan yang lebih tinggi keluar kampong, maka kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah semakin terasa.

 

 

 

 

 

 Image

KISAH YANG MENGHARUKAN

Standar

Kisah Cinta Suami Istri Mengharukan Banget
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
– T A M A T

PENDIDIKAN KARAKTER

Standar

PENDIDIKAN KARAKTER

Rate This
Urgensi Pendidikan Karakter
Prof . Suyanto Ph.D
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Dampak Pendidikan Karakter
Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.
Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.
Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.
Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Kemdiknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar, kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini, dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.
Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof.dr.Fasli Jalal, Ph.D, hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.Dr.Mahfud,MD,SH, SU. Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie, SH. Prof.Dr.Djohermansyah Djohan, M.A. Prof.Dr.H.Sunaryo Kartadinata,M.Pd. Prof.Dr.H.Dadan Wildan, M.Hum dan Drs. Yadi Ruyadi, M.si.
Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara, beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”
Dari bunyi pasal tersebut, Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.
Wamendiknas pun mengatakan bahwa, pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.
Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture , dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.
Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Selain itu mengenai sarana-prasaran, pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa, karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan.
Prihal pengembangannya sendiri, Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter, mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas.
Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05), di Ruang Rapat Komisi X, DPR-RI, diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi, adalah Menkokesra, Mendiknas, Menag, Menbudpar, Menpora, Wamendiknas, Perwakilan Kementerian Dalam Negeri, serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait.
Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya.
Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja, melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa.
Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Tetapi yang masih umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini, meskipun ada pelajaran pancasila, kewarganegaraan dan semisalnya, tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya, maka indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)..
ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN
“Pendidikan karakter” atau “character building”, menjadi tema yang sangat akrab di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang digelar di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat atau bahkan pelosok negeri, terutama pasca digulirkannya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. dan masih banyak lagi tema lain yang tidak kalah menarik, yang kesemuanya merupakan konsep dan wacana pendidikan yang sangat brilian, sehingga tidak sedikit dari kalangan pendidik sebagai peserta seminar, lokakarya maupun workshop yang seakan terhipnotis untuk dapat segera mengaplikasikan konsep-konsep dan wacana tersebut ke dalam proses pembelajaran. Di sisi lain tidak sedikit pula peserta yang memilih melewati seminar, lokakarya maupun workshop sebagai sebuah protokoler demimendapat selembar sertifikat belaka.
Tentu yang demikian bukan sesuatu yang diharapkan dari sebuah seminar atau apapun namanya itu. Namun, apa mau dikata jika realitanya demikian? Karena pertanyaannya, apa mungkin lokakarya atau workshop itu bisa berjalan secara efektif (sampai pada tahap perumusan kesimpulan untuk direkomendasikan) jika perbandingan antara jumlah peserta dengan kapasitas ruangan menunjukkan keadaan yang tidak representatif? Adalah sesuatu yang nyaris impossible untuk bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan jika sebuah forum, melibatkan 300 hingga 600 peserta, terlebih dengan narasumber yang terbatas dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Bahkan kesan yang timbul adalah demikian kentalnya unsur “komersialisme” di balik penyelenggaraan seminar, lokakarya maupun workshop. Karena setidaknya, penyelenggara bisa membatasi jumlah peserta jika memang menghendaki lokakarya/workshop bisa berjalan lebih kondusif dengan segala hasilnya. Padahal penyelenggara sudah jelas dari lingkungan pendidikan atau minimal LSM yang mengklaim peduli terhadap pendidikan. Dari sini jelas, tanpa disadari baik dari sisi penyelenggara maupun peserta telah dapat terpotret “sebuah karakter” tegasnya “bagian dari karakter pendidikan kita”, karena baik forum, topik masalah maupun pihak yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari komponen pendidikan. Penyelenggra yang cenderung sengaja membludagkan peserta demi kepentingan komersial atau peserta yang cenderung hanya mengejar sertifikat demi nilai poin portopolio dalam sertifikasi, jelas menunjukkan karakter yang menyimpang karena seharusnya karakter yang ada adalah penyelenggara yang mengutamakan proses serta hasil secara substansial. Begitu pun karakter peserta yang seharusnya memilih aktif melibatkan diri dalam proses seminar, lokakarya maupun workshop, hingga sampai pada tahap aplikasinya di lapangan.
Di sisi lain, adanya kecenderungan membocorkan soal atau kunci jawaban UAN oleh sejumlah oknum dari dunia pendidikan demi pencapaian prosentase kelulusan di wilayahnya, adanya kecenderungan masyarakat (orang tua / wali murid) menempuh jalan pintas demi kelulusan putra-putrinya sampai pada adanya kecenderungan siswa mempercayai sms-sms menyesatkan. Hal itu menunjukka UAN sebagai “monster” yang menakutkan sehingga lagi-lagi ditempuh berbagai cara demi mendapatkan label “lulus”. Dengan demikian, menambah lagi panjang daftar “karakter menyimpang” dari dunia pendidikan kita. Belum lagi, dampak dari pengumuman kelulusan itu sendiri, seperti berupa; stres, histeria, bahkan bunuh diri yang dialami dan dilakukan oleh siswa yang tidak lulus. Pertanyaannya adalah, apakah benar, UAN dengan SKLnya merupakan upaya yang tepat untuk sekedar kepentingan standardisasi Nasional, jika realitanya demikian terasa memvonis anak bangsa? Memvonis karena perjuangan dan keluh kesah siswa selama kurang lebih 3 tahun dengan indeks prestasi “memuaskan” untuk setiap bidang studi selama ini menjadi sia-sia tatkala karena sesuatu hal “lebih karena teknis LJK” maka terpaksa harus menerima pahitnya “label tidak lulus” dan pada akhirnya justru label lulus diperoleh dari ujian paket yang mau tidak mau mempengaruhi kelancaran mereka dalam menempuh pendidikan lebih lanjut termasuk juga mempengaruhi nasib mereka dalam memasuki dunia kerja. Padahal belum tentu mereka tidak cerdas, demikian pula halnya bagi mereka yang lulus UAN yang ternyata tidak juga menjamin untuk bisa mask ke sekolah / pendidikan tinggi unggulan terlebih ke dunia kerja yang prospektif.
Hal itu membuktikan bahwa faktor keberuntungan masih terbuka dalam penyelenggaraan UAN dengan bentuk soal yang “multiple choice” itu. Maka pertanyaannya kemudian adalah, haruskah “standardisasi Nasional” menjadi sesuatu yang yang selalu naif serta memilukan dan berujung dengan dinginnya tembok-tembok penyelenggaraan ujian paket demi menyandang label lulus? Sementara seminar, lokakarya maupun workshop selelu menjadi hal lain yang hanya hangat dalam pembahasan dan penyelenggaraan, namun selalu dingin dan beku dalam penerapan karena indahnya konsep-konsep pendidikan yang “brilian” ternyata tidak pernah mampu menembus kerasnya dinding-dinding gedung tempat digodognya sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan Nasional kita.
Padahal tidak sedakit masyarakat/orang tua murid yang entah sampai kapan harus merindukan suatu sistem dan ukuran keberhasilan pendidikan yang lebih protektif terhadap minat dan bakat anaknya. Maka pertanyaannya adalah, tidak cukupkah KTSP sebagai penyempurnaan dari KBK yang selayaknya mampu menerjemahkan minat dan bakat peserta didik sejak dini untuk kemudia dibina semaksimal mungkin, sebagai bidang kompetensinya? Sehingga dengan demikian, efektivitas serta efisiensi pendidikan akan lebih bisa dirasakan. Barangkali kita sepakat bahwa standardisasi Nasional merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan kita. Namun kiranya perlu formulasi sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan yang tidak hanya menekankan “hasil kuantitatif” hanya pada bidang-bidang akademis melainkan perlu rumusan sistem serta ukuran keberhasilan yang protektif terhadap “esensi proses” serta nilai sikap (kualitatif) termasuk pada bidang-bidang non akademis yang selama ini “teranaktirikan” atau “termarjinalkan”. Hal ini penting, jika kita menginginkan terbentuknya karakter bangsa sebagaimana tersirat dalam konsep-konsep dan wacana pendidikan di ruang-ruang seminar, lokakarya maupun workshop yang sejatinya mengakui bahwa kontribus IQ terhadap keberhasilan hidup anak manusia hanya sebesar 20%, sedang selebihnya ditentukan oleh EQ dan SQ.
Oleh karena itu, seyogianya, dunia pendidikan Nasional kita bisa merumuskan kembali sistem serta ukuran keberhasilan yang lebih representatif, serta sedapat mungkinmenghindari faktor keberuntungan, serta bisa lebih protektif terhadap berkembangnya kecerdasan yang komprehensif dan holistik. Mengingat pendidikan hanya akan bisa dikatakan berhasl jika mampu mencetak manusia yang cerdas secara IQ, EQ, SQ, serta cerdas dalam skill yang sangat dibutuhkan untuk bisa hidup layak di zamannya.
Presented by Pradhani Khatulistyaningrum
Bagian Akademik Ilmiah
Penelitian dan Pengembangan
HMJ PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK